Telp : (0370) 623375

KHIDMAT UPACARA HSN 2021 “SANTRI SIAGA JIWA RAGA”

Jum’at 22 Oktober 2021:08.00 wita

Lombok Barat_Inmas – Peringatan Hari Santri Nasional ke-7 tahun 2021 dilaksanakan di Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat berjalan dengan khidmat. Upacara hari Santri ini juga di laksanakan di 10 kecamatan di Kab. Lombok Barat.

Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, S.Ag, M.Si, bersama Kakan Kemenag Lobar Dr. H. Jalalussayuthy, SS.M.Pd, Kapolres Lobar AKBP Bagus Satria Wibowo SIK, Ketua DPRD Lobar Hj Nur Hidayah, Assisten I Agus Gunawan, Asissten III H. Ilham, Kepala OPD Lobar, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat mengikuti Upacara Peringatan Hari Santri 22 Oktober 2021 bertempat di Lapangan Kantor Kemenag Kab. Lobar, Jumat (22/10).

gabung.jpeg

Bertindak sebagai Inpektur Upacara Dandim 1606/Mataram Kolonel Arm Gunawan, S.sos.,M.T,. Turut menjadi peserta Upacara Hari Santri segenap Karyawan Kemenag Lobar, Pengawas Madrasah/PAI, Kepala MAN Lobar, Kepala MTSN dan MIN Kemenag Lobar, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan Penghulu, Pimpinan Ponpes/TPQ/Madin, Santri dari Madrasah Pondok pesantren yang berada di sekitar Kantor Kemenag Lobar.

1.JPG

Dandim 1606/Mataram Kolonel Arm Gunawan, S.sos.,M.T, dalam amanat Pembina Upacara membacakan Amanat Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22Tahun 2015 telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Penetapan 22 Oktober merujuk pada tercetusnya "Resolusi Jihad" yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan lndonesia. Resolusi Jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 yang kita diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Lebih jauh Kolonel Arm Gunawan mengatakan, sejak ditetapkan Hari Santri maka setiap tahun rutin diselenggarakan peringatan Hari Santri dengan tema yang berbeda. Untuk peringatan Hari Santri Tahun 2021 ini mengangkat tema Santri Siaga Jiwa Raga.

Maksud tema Santri Siaga Jiwa Raga adalah bentuk pernyataan sikap santri Indonesia agar selalu siap siaga menyerahkan jiwa dan raga untuk membela Tanah Air, mempertahankan persatuan Indonesia, dan mewujudkan perdamaian dunia. Siaga Jiwa berarti santri tidak lengah menjaga kesucian hati dan akhlak, berpegang teguh pada akidah, nilai, dan ajaran Islam rahmatan liFalamin serta tradisi luhur bangsa Indonesia.

Bila zaman dahulu jiwa santri selalu siap dan berani maju untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, maka santri hari ini tidak akan pernah memberikan celah masuknya ancaman ideologi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan Indonesia. Siaga Raga berarti badan, tubuh, tenaga, dan buah karya santn didedikasikan untuk Indonesia. Oleh karena itu, santri tidak pernah lelah dalam berusaha dan terus berkarya untuk Indonesia.

Jadi, Siaga Jiwa Raga merupakan komitmen seumur hidup santri yang terbentuk dari tradisi pesantren yang tidak hanya mengajarkan kepada santri-santrinya tentang ilmu dan akhlak, melainkan juga tazkiyatun nafs, yaitu mensucikan jiwa dengan cara digembleng melalui berbagai 'tirakat' lahir dan batin yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tema Santri Siaga Jiwa Raga menjadi sangat penting dan relevan di era pandemi Corona Virus Desease (COVID-19) seperti sekarang ini, di mana kaum santri tidak boleh lengah dalam menjaga protokol kesehatan 5M41D (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak, Menjauhi Kerumunan, Mengurangi Mobilitas, dan Doa). Hal ini juga perlu diperhatikan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya agar tetap menyiagakan jiwa serta raganya demi kepentingan bangsa Indonesia, terutama dalam rangka bersama-sama untuk bangkit dari dampak pandemi COVID-19. Kita patut mengapresiasi pengalaman beberapa pesantren yang berhasil melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan atas dampak pandemi COVID-19. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren juga memiliki kemampuan untuk menghadapi pandemi COVID19 di tengah berbagai keterbatasan fasilitas yang dimilikinya.

Modal utamanya adalah tradisi kedisiplinan dan sikap kehati-hatian yang selama ini diajarkan oleh para pimpinan pesantren (kiai/nyai) kepada santri-santrinya. Tidak lupa pula bahwa keteladanan mereka berkontribusi untuk mendorong para santri bersedia ikut vaksin yang saat ini sedang diprogramkan oleh Pemerintah.

“ Kita patut bersyukur karena dua tahun lalu menjelang peringatan Hari Santri 2019, kaum santri mendapatkan 'kado istimewa' berupa pengesahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Undang-Undang tentang Pesantren ini berfungsi sebagai rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi bahwa pesantren tidak hanya mengembangkan fungsi pendidikan, tetapi juga mengembangkan fungsi dakwah dan fungsi pemberdayaan masyarakat. Sedangkan Peringatan Hari Santri Tahun 2021 ini, kalangan pesantren kembali mendapatkan 'kado indah' dari Presiden Joko Widodo berupa Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren. Peraturan Presiden ini secara khusus mengatur tentang dana abadi pesantren yang dialokasikan dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia pendidikan pesantren,” ungkapnya.

Dalam upacara tersebut juga di rangkai dengan bacakan Ikrar Santri, menyayikan lagu Mars Hari Santri Nasional, Penyerahan Izin Operasional Pondok Pesantren dan TPQ serta penyerahan Piagam penghargaan kepada pemenang lomba Musabaqah Qira’atul Qutub lingkup Kemenag Lobar.

Penyerahan Izin Operasional diberikan secara bergiliran kepada Pimpinan Ponpes dan pimpinan TPQ oleh Bupati Lombok Barat dilanjutkan Kapolres Lobar, Dandin 1606, Kakan Kemenag Lobar dan Ketua DPRD Lobar. (22/10/2021) @K. Ansori

JUARA.JPG

DPR.jpeg

share:

Tinggalkan Komentar Anda

Berita Lainnya