Telp : (0370) 623375

77 NASKAH KHUTBAH LINTAS AGAMA KADO DARI KEMENTERIAN AGAMA Dan BKKBN KABUPATEN LOMBOK BARAT UNTUK HUT NKRI KE-77

WhatsApp Image 2022-09-13 at 21.29.08.jpeg

KHUTBAH 1: SOLUSI ISLAM CEGAH STUNTING

Oleh : Muhammad Ali

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونَسْتَعِيْنُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، ونَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ َأَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ، فَلَا هَادِيَ لَهُ. وأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهم فصلي وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين اما بعد..يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Jamaah shalat Jum’at yang berbahagia

Akhir-akhir ini, pemerintah lewat kementerian kesehatan gencar menyuarakan pencegahan stunting. Hal ini juga makin nyaring disuarakan oleh beberapa lembaga swasta dan organisasi kemasyarakatan, termasuk Kementerian Agama.

Lalu apa itu stunting? Mengacu pada bulletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Anak yang menderita stunting akan lebih rentan terhadap penyakit dan ketika dewasa berisiko untuk mengidap penyakit degeneratif. Yaitu penyakit kronis yang memengaruhi saraf, pembuluh darah, hingga tulang atau penyakit yang mengiringi proses penuaan. Dampak stunting tidak hanya pada segi kesehatan tetapi juga mempengaruhi tingkat kecerdasan anak.

Berdasarkan data keseluruhan balita stunting yang dikumpulkan World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk negara tertinggi ketiga di regional Asia Tenggara, South-East Asia Regional (SEAR). Tercatat dari 23 juta balita di Indonesia, 35,6% mengalami stunting. Itu artinya ada sekitar 7,8 juta balita menderita stunting. Padahal, WHO menetapkan batas toleransi maksimal stunting sebuah negara di angka 20 %. Karena angka stanting di Indonesia masih di atas 20 %, maka kemudian WHO menetapkan Indonesia sebagai negara dengan status gizi buruk.

Jamaah shalat Jum’at yang berbahagia

Tingginya kasus stunting di Indonesia menunjukkan bahwa bangsa ini masih lemah. Cita-cita bangsa untuk melahirkan generasi kuat masihlah jauh dan membutuhkan perjuangan yang lebih serius. Bukankah Allah SwT mengingatkan :

وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisa: 9)

“Lemah” sebagaimana ayat di atas, mengandung banyak pengertian. Bisa dimaknai lemah secara ekonomi, lemah iman, lemah karakter atau budi pekerti, dan lemah dalam ilmu pengetahuan. Termasuk juga lemah secara fisik yang kaitannya dengan kesehatan, seperti stunting.

Jamaah shalat Jum’at yang berbahagia

Sebagai upaya pencegahan, Islam menawarkan beberapa langkah sebagaimana firman Allah SwT dalam QS Al-Baqarah ayat 233 sebagai berikut :

وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma´ruf.”

Tiga hal yang perlu diperhatikan dari ayat di atas. Pertama, hendaknya seorang ibu menyusui anak-anak selama dua tahun. Anjuran serupa juga disosialisasikan oleh dunia kesehatan internasional. Bahkan anak usia 0-6 bulan tidak boleh mendapan asupan makanan apapun kecuali ASI (ASI Eksklusif). Kenapa hanya ASI? Karena tidak ada makanan bagi bayi selengakap kandungan gizi dalam ASI. Dalam ASI mengandung setidaknya 200 zat gizi dan memberikan kekebalan buat bayi hingga 20 kali lipat. Maka ASI sangat diperlukan dalam pembentukan kualitas generasi cerdas masa depan.

Lalu bagaimana jika si ibu yang menyusui justru kekurangan gizi? Maka langkah kedua, tugas sang ayah adalah memastikan bahwa ibu dari anak-anaknya memperoleh asupan gizi yang baik. Termasuk selalu menjaga kebahagiaan batinnya, yang digambarkan oleh ayat di atas dengan memberikan pakaian dengan cara yang baik. Kalau seorang ibu dalam kondisi bahagia dan terjaga gizinya, maka secara otomatis akan menghasilkan ASI dengan kualitas terbaik pula. Dalam ayat lain disebutkan :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS An-Nisa : 19) Maksudnya, tanggung jawab ayah (memberi makan dan member pakaian dengan cara yang baik) tersebut hendaknya sudah dilakukan sejak ia menikah dengan calon ibu dari anak-anaknya. Sebab dari ibu yang sehat dan bahagia maka akan lahir anak-anak yang sehat pula lagi cerdas.

Ketiga, secara tersirat, dari QS Al-Baqarah ayat 233 di atas, keluarga (baik ayah maupun ibu) harus membiasakan pola hidup sehat. Yaitu dengan membudayakan pola makan yang sehat, memperhatikan kebersihan dan keindahan lingkungan rumah dengan tata sanitasi yang baik, serta membentuk jasmani bugar dengan olahraga. Jamaah shalat Jum’at yang berbahagia

Sesuai nasihat QS Al-Baqarah ayat 233, maka stunting bisa dicegah dengan terlebih dahulu membina bahtera rumah tangga yang bahagia lagi sehat. Baik ayah maupun ibu masing-masing menempatkan diri sebagai agen kesehatan bagi anak-cucunya nanti. Sesibuk apapun seorang ibu, program ASI eksklusif harus tetap diupayakan, bahkan terus menyusui sampai anak usia 2 tahun. Dan sesibuk apapun seorang ayah, kesehatan dan kebahagiaan istri adalah prioritas. Karenanya, marilah kita memanjatkan doa agar cita-cita mewujudkan generasi qurrata a’yun (generasi terbaik) dikabulkan oleh Allah SwT.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ العَظِيْمِ وَ نَفَعَنِيْ وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَ تَقَبَّلَ اللهُ مِنّيْ وَ مِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَ الْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنِ وَ لَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ, أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهل لانبى بعده اللهم فصلى وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين اما بعد. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْنِيْ وَ إِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ, وَ لَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَعْوَاتِ. اللّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِهِمْ الْإِيْمَانَ وَالحِكْمَةَ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يَشْكُرُوْا نِعْمَتَكَ الَتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ ، وَجَنِّبْنَا الفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ، وَبَارِكْ لَنَا فيْ أَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوْبِنَا ، وَأَزْوَاجِنَا ، وَذُرِّيَّاتِنَا ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ ، مُثْنِيْنَ بِهَا ، قَابِلِيْهَا ، وَأَتَمَّهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, َقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ, وَ الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

KHUTBAH 2: POLA HIDUP BERSIH

Oleh : Ahmad Syafii, S.Pd.I

الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْد فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ .يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران02 1

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah

Seorang muslim wajib hidup dalam kebersihan dan menjalani kehidupannya dengan segala kebersihan. Bersih dari semua kotoran sampah secara fisik di lingkungan di manapun berada maupun bersih secara ruhiyah.,Mengapa seorang muslim harus hidup dalam kebersihan dan mengamalkan hidup bersih? Karena salah satu penyebab stunting Sering terpapar mikroba melalui lingkungan dengan tingkat kebersihan yang buruk dapat menyebabkan infeksi subklinis dan peradangan di mana gejalanya tidak terlihat.Anak-anak yang terkena dampaknya berpotensi menderita kerusakan usus parah dan tidak dapat menyerap nutrisi dari makanan secara efektif.selanjutnya berdasarkan hadis nabi Muhammad SAW

اَلْاِسْلَامُ نَطِـيْفٌ فَتَـنَطَفُوْا فَاِنَـهُ لايَدْخُلُ الْجَنَـةَ اِلانَطِيْفٌ

“Islam itu adalah bersih, maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih” (H.R. Baihaqi)

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah

Ada beberapa keutamaan menjaga kebersihan dalam Islam:

Pertama, Menaati Perintah Allah SWT

Muslim yang mengamalkan kebersihan dalam kehidupannya harus diniatkan semata-mata karena mengikuti aturan Allah Ta’ala. Sebab Allah tidak menyukai sesuatu yang kotor ataupun najis. Maka itu, umat Islam harus bersuci sebelum shalat dan membaca Al-Quran. Serta sebaiknya bersuci juga ketika hendak berdizikir. Seperti firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, (QS. Al Maidah [5]: 6)

Kedua, Mengamalkan Sunnah Rasul

Tiada teladan terbaik sepanjang hayat kecuali Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dialah satu-satunya teladan bagi umat Islam. Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya dalam amaliyah satu sisi, tapi juga termasuk mengamalkan kebersihan adalah bagian dari mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam begitu senang dengan kebersihan, beliau gemar bersiwak atau menggosok gigi untuk menjaga kesehatan mulutnya.diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dia berkata: Rasulullah saw bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ

“Jika aku tidak menjadikan berat umatku, maka sungguh aku perintahkan bersiwak (menggosok gigi) setiap hendak shalat”. (HR Bukhari) Ketiga, Dicintai Allah

Seseorang yang memelihara kebersihan maka kesehatannya juga akan lebih terjaga. Dalam hadis dijelasakan bahwa Allah SWT lebih menyukai mukmin yang sehat dan kuat daripada yang lemah.

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِل اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim).

Keempat, Meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT

Bukan hanya sehat secara fisik orang yang mengamalkan hidup bersih. Jauh lebih luas lagi, orang-orang yang mengamalkan kebersihan, maka hal itu akan menjadi wasilah baginya untuk meningkatkan keimanan dan rasa takwa kepada Allah Ta’ala.

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah

Betapa indah ajaran Islam ini. Dalam hadis lain juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan, “Dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu."(HR.TIRMIZI)

Jadi, mari kita mulai untuk senantiasa menjaga kebersihan. Bukan tidak mungkin, penyakit yang selama ini menyerang akan hilang ketika seseorang mampu mengamalkan hidup bersih dan menjadikan kebersihan sebagai gaya hidupnya supaya generasi penerus kita terhindar dari penyakit stunting,semoga khutbah ini bermanfaat untuk khotib dan umumnya sekalian Jamaah.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

KHUTBAH 3: PENCEGAHAN STUNTING DALAM PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA**

Oleh: Renah, S.Pd.B

Arogya parama labha

Santutthiparamam dhanam

Vissasa parama nathi

Nibbanam paramam sukham

Kesehatan adalah keuntungan yang tertinggi

Kepuasan adalah kekayaan tertinggi

Kepercayaan adalah kerabat terbaik

Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi. (Dhammapada XV, 8)

Sebelum membahas stunting dalam perspektif atau sudut pandang agama Buddha terlebih dahulu saya akan menjelaska tentang stunting secara umum serta kasus-kasus yang terjadi di masyarakat. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kuragnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usiaya (Kemenkes.go.id). menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase perikahan dini di Indonesia meningkat dari tahun 2017 yang hanya14,18% menjadi 15,66% pada tahun 2018. Ada fakta lain yang menjelaskan bahwa sebesar 43,5% kasus stunting di Indonesia terjadi pada anak berumur di bawah tiga tahun (balita) dengan usia 14-15 tahun, sedangkan 22,4% dengan rentang usia 16-17 tahun. Menurut data dari Pengadilan Agama Kabupaten Temanggug pada tahu 2021, terdapat 503 kasus dispensasi kawin bagi calon suami istri yang belum berusia 19 tahun. Kalau melihat kejadian seperti ini tentu harus mendapat perhatian semua pihak baik keluarga maupun pemerintah.

Salah satu penyebab stunting ini yaitu pernikahan dini, dimana pasangan muda belum memiliki penghasilan yang layak sehingga kebutuhan gizi anak tidak tercukupi secara optimal. Gizi merupakan salah satu kebutuhan yang harus terpenuhi untuk perkembangan mental atau jiwa seseorang. Stunting ini akan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia yaitu berdampak buruk terhadap perkembagan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan metabolisme tubuh. Oleh sebab itu, demi meningkatnya kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia masalah stunting ini harus segera diatasi karena sebabnya sudah diketahui. Karena untuk bisa menyelsaikan suatu permasalahan terlebih dahulu harus dicari akar masalah sebagai penyebab suatu kasus. World Health Organization (WHO) Indonesia.

“Hasil studi, organisasi kesehatan dunia atau WHO menyebutkan salah satu masalah stuting karena tingginya perikahan dini. Lalu bagimana hubungan antara stunting dengan pernikahan dini?

Seorang perempuan yang belum matang secara psikologis terkadang mereka belum mampu atau belum memiliki pengetahua yang cukup mengenai kehamilan dan pola asuh anak yang baik. Selain itu, dijelaskan bahwa remaja masih membutuhkan gizi maksimal hingga usia 21 tahu. Jika mereka menikah pada usia remaja, misalnya usia 15 atau 16 tahun, maka tubuh mereka aka berebut gizi dengan bayi yang dikandungnya. Jika nutrisi seorag ibu tidak mencukupi selama kehamilan, bayi akan lahir rendah (BBLR) dan sangat berisiko terkena stuting.

Wanita hamil di bawah usia 18 tahun, organ reproduksinya belum matang. Organ rahim, misalnya, belum terbentuk sempurna sehingga beresiko tinggi menganggu perkembangan janin dan bisa menyebabkan kegugura.

Seperti yang telah saya tulisakan di atas bahwa untuk mencegah terjadinya pernikahan dini tidak hanya dilakukan dilingkungan keluarga saja tetapi pemerintah juga harus memberika perhatian khusus terhadap masalah stunting ini, karena ini menyangkut masalah generasi penerus Bangsa Indonesia. Salah satu bentuk perhatian pemerintah dalam menangani masalah pernikahan dini yaitu dengan adanya undang-undang pernikahan. Pada awalnya pemerintah hanya mengatur batas usia minimal perempuan untuk menikah yakni 16 tahun (UU No 1 Tahun 1974). Kemudian undang-undang inidirevisi dengan undang-undang No 16 Tahun 2019 yang mulai berlaku sejak tanggal 15 Oktober 2019. Dimana dalam aturan ini menyebutkan bahwa usia minimal untuk menikah adalah 19tahun baik untuk perempuan maupun laki-laki (Kompas.com, 26 Oktober 2021, 11:05 WIB).

Stunting dalam perspektif Agama Buddha

Untuk mengetahui pandangan agama Buddha mengenai stunting, tentu kita harus mengamati atau mengkaji Tipitaka (Vinaya Pittaka, Sutta Pittaka, dan Abhidhamma Pitaka). 

Menurut Agama Buddha perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria sebagai suami dan seorang wanita sebagai istri berlandaskan pada cinta kasih (Metta), kasih sayang (Karuna), rasa sepenanggungan (Mudita) dengan tujuan membentuk suatu keluarga (ruma tangga) bahagia yang diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pandangan Agama Buddha, perkawinan adalah suatu pilihan bukan kewajiban. Artinya, seseorang dalam menjalani kehidupan ini boleh memilih hidup berumah tangga ataupun hidup sendiri. Hidup sendiri dapat menjadi pertapa di vihara - sebagai bhikkhu, samanera, anagarini, silacarini - ataupun tinggal di rumah sebagai anggota masyarakat biasa.

Inti ajaran Sang Buddha berkaitan erat dengan penderitaan makhluk dan solusinya. Dalam sejarah pembabaran Dhamma selama 45 tahun, Sang Buddha berusaha menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat dan aktivitas hidup yang tidak membawa kebahagiaan. Namun hidup ditengah masyarakat yang kompleks tentu Sang Buddha juga harus bersikap dengan bijaksana dalam menyikapi berbagai peristiwa yang terjadi dalam masyarakat termasuk masalah perkawinan. Dalam menyikapi isu perkembangan kehidupan, sang Buddha mempunyai pandangan yang cukup fleksibel, artinya mendukung namun di sisi lain menolak secara tegas. Sebagai contoh jika cara hidup itu membawa pada tujuan hidup yaitu kebahagian baik secara duniawi maupun spiritual maka sang Buddha tidak melarangnya. Namun jika cara hidup itu membawa pada jurang penderitaan maka Sang Buddha menyarankan untuk meninggalkan cara hidup tersebut. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya karena tujuan hidup dalam agama Buddha adalah bahagia di dunia maupun kehidupan yang akan datang, atau setelah meninggal dunia.

Pada zaman Sang Buddha atau India kuno masalah pernikahan dibawah umur sudah menjadi biasa bahkan banyak orang terutama para raja yang memiliki lebih dari satu istri. Bahkan sebelum menjadi Buddha, Pangeran Siddharta menikah pada usia 16 tahun dan kalau kita lihat undang-undang pernikahan di Indonesia saat ini usia 16 tahun belum boleh melangsungkan pernikahan, tetapi pada masa itu usia 16 tahun sudah boleh melakukan pernikahan, ini tidak lepas dari pengaruh budaya dan lingkungan. Dengan usia pernikahan yang masih cukup muda, masyarakat pada masa itu, terutama para pemuda tidak memiliki pengendalian diri yang kuat. Namun Setelah pangeran Siddharta menjadi Buddha dan melihat kondisi kehidupan perumah tangga yang terlalu mengumbar nafsu maka Sang Buddha memberikan aturan dan aturan ini dikeluarkan bukan tanpa sebab tetapi ada akibat yang akan diterima sebagai konsekuensi melakukan perbuatan tersebut baik konsekuensi secara fisik maupun mental. Dengan pemahaman yang benar dan penuh kebijaksanaan Sang Buddha meluruskan budaya dan pandangan masyarakat mengenai kehidupan berumah tangga terutama kehidupan seksualitas. Maka Sang Buddha memberikan peraturan yang harus dihindari.

“Ia menghindari hubungan seksual tidak sah, berpantang hubungan seksual. Ia tidak berhuubungan seksual dengan gadis yang masih dibawah perlindungan ibu atau ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak famili, atau dengan wanita yang sudah menikah, atau narapidana perempuan, atau dengan gadis yang telah bertunangan”

Pernyataan Sang Buddha ini berkaitan dengan orang yang tidak layak disetubuhi (agamantavatthu) oleh lelaki adalah menyangkut wanita-wanita yang belum menikah dan wanita yang sudah menikah atau ada yang memilikinya.Yang termasuk dalam orang atau obyek yang tidak patut disetubuhi adalah mereka yang masih single, karena mereka masih dalam perlindungan dan pengawasan orang tua dan kerabatnya. Singkatnya wanita-wanita yang di bawah perlindungan: orang tua, saudara, sanak keluarga, suku, pelaksana Dharma dan mereka yang sudah mempunyai pasangan hidup. Melihat syarat pernikahan saat ini yaitu 19 tahun, berati dinawah usia 19 tahun masih dalam perlindungan orang tua atau keluarga.

Melihat pernyataan Sang Buddha yang seperti ini, kita sebagai umat Buddha yang hidup di zaman moderan yang dihiasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dapat memandangnya secara realistis atau dengan maksud yang sebenarnya. Kalau kita lihat sekarang larangan menikah di usia muda, disebabkan karena beberapa alasan, salah satunya adalah kesehatan fisik dan mental. Meskipin dalam pernyataan Sang Buddha di atas tidak menjelaskan masalah kesehatan mental dan fisik tetapi dapat kita lihat secara jelas Sang Buddha memberikan peraturan itu dengan alasan yang baik untuk mencapai kebahagiaan duniawi. Salah satu kriteria kebahagiaan duniawi adalah memiliki kesehatan, hal ini tergambar dengan jelas Dalam Dhammapada:

Arogya parama labha

Santutthiparamam dhanam

Vissasa parama nathi

Nibbanam paramam sukham

Kesehatan adalah keuntungan yang tertinggi

Kepuasan adalah kekayaan tertinggi

Kepercayaan adalah kerabat terbaik

Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi. (Dhammapada XV, 8)

Di dalam agama Buddha, kesehatan itu dilihat dari dua faktor, yaitu kesehatan mental/batin & kesehatan fisik/jasmani. Kedua kesehatan ini sama-sama penting, jika salah satunya saja yang kita miliki maka akan menjadi tidak balance (seimbang). Berkaitan dengan masalah pernikahan dini, dikatakan bahwa Seorang perempuan yang belum matang secara psikologis terkadang mereka belum mampu atau belum memiliki pengetahua yang cukup mengenai kehamilan dan pola asuh anak yang baik. Selain itu, remaja masih membutuhkan gizi maksimal hingga usia 21 tahun. Apabila mereka menikah misalnya usia 15 atau 16 tahun, maka tubuh mereka akan berebut gizi dengan bayi yang dikandungnya. Jika nutrisi seorag ibu tidak mencukupi selama kehamilan, bayi akan lahir rendah (BBLR) dan sangat berisiko terkena stunting. Dari uraian di atas sudah sangat jelas Sang Buddha sangat mementingkan kesehatan. Untuk mendapatkan kesehatan secara mental maka harus menghindari atau memotong akar dari penyebab stunting yaitu menghindari pernikahan dini. Lebih lanjut Sang Buddha menyarankan agar mengendalikan keinginan yang membawa pada jurang penderitaan, mengendalikan nafsu indria karena indria yang tidak terkendali merupakan sumber penderitaan, yang akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Stunting tidak hanya berdampak pada masalah fisik tetapi juga masalah mental. Sang Buddha mengatakan bahwa manusia seutuhnya adalah manusia yang sehat secara jasmani dan batin. Artinya memiliki tubuh yang bebas dari penyakit dan juga memiliki batin yang bebas dari tekanan emosi. Oleh sebab, sehat batin dan jasmani harus berimbang. Jika badan sehat tetapi batin atau pikiran sakit maka ini bisa merusak dunia. Banyak kejahatan yang terjadi akibat ulah orang yang badannya sehat tapi pikirannya sakit, emosional, suka menghujat dan lain sebagainya. Karena pikiran ini merupakan pemimpin apabila seseorang pikirannya jahat maka ucapan maupun tindakannya akan jahat karena ucapan dan perbuatan merupakan reflika dari pikiran, dengan kata lain pikiran adalah pemimpin. Hal ini senanda dengan pernyataan sang Buddha dalam Dhammapada:

“ Pikiran mendahului segala keadaan mental, Pikiran adalah pemimpinnya, mereka semua dibuat oleh pikiran. Jika dengan pikiran tidak murni sesesorang berbicara atau berbuat, penderitaan akan menngikutinya bagai roda pedati mengikuti kaki lembu yang menariknya. Jika dengan pikiran murni seseorang berbicara atau berbuat, kebahagian akan mengikutinya laksana bayangan yang setia.” (Dhammapada Yamaka Vagga, syair 1 dan 2)

Jadi jelas menurut Agama Budha kesehatan adalah sehat secara mental/ batin. dengan mental yang sehat, maka fisik pun akan menjadi sehat. Kesehatan pikiran menurut ajaran Budha ialah, pikiran yang sehat adalah pikiran yang dapat melihat kehidupan ini dengan apa adanya, yaitu penerimaan terhadap diri sendiri dan Dunia bahwa kehidupan ini dicengkeram oleh Ketidakkekalan (anicca), Tidak Memuaskan ( Dukkha), dan Tanpa Inti (Anatta). Sang Budha bersabda:

“ Sungguh bahagia kita hidup tanpa penyakit diantara orang- orang yang berpenyakit, diantara orang- orang berpenyakit kita hidup tanpa penyakit”. ( Dhammapada. XV: 198 )

Untuk mencegah terjadinya stunting merupakan tugas semua pihak baik pemerintah maupun keluarga. Saat ini pemerintah sudah memberlakukan atau memiliki undang-undang pernikahan yang mebahas usia pernikahan tentu ini merupakan salah satu langkah yang tepat untuk mencegah terjadinya stunting. Lalu bagaimana langkah yang paling dasar? Saya rasa peran orang tua juga sangat penting dalam memberikan pendidikan baik pendidikan lahir dan batin. Sesungguhnya pendidikan di awali dari rumah, artinya pengetahuan diperoleh dari orang tua anak itu sendiri. Disebutkan dalam Buddha Dhamma bahwa ayah dan ibu adalah guru yang pertama (Khuddaka Nikaya, 286). Artinya orang tua harus sesering mungkin memberikan pendidikan moral. Oleh karena itu, sebaiknya pendidikan anak sudah dilakukan sejak anak masih dalam kandungan. Tentu saja pendidikan sejak dalam kandungan lebih bersifat batin daripada badan. Pendidikan batin di sini, salah satunya adalah pendidikan agama. Sebagai orang tua yang baik harus memberikan bimbingan terhadap anak-anaknya, mencegah anaknya untuk bergaul dengan orang yang tidak baik, sebab jika anak salah dalam bergaul maka bisa terjerumus dalam kehidupan yang tidak baik juga. Tetapi sebaliknya orang tua harus menganjurkan anak-anaknya untuk bergaul dengan orang dan lingkungan yang baik. Sebab bergaul dengan orang baik akan mendatangkan kebahagiaan. Seperti yang dijelaskan oleh Sang Buddha dalam Manggala Sutta bait II dan III”

“Tak bergaul dengan orang dungu Bergaul dengan para bijaksanawan, Dan menghormat yang patut dihormati Itulah berkah utama”

“Bertempat tinggal di tempat yang sesuai Memiliki timbunan kebajikan di masa lampau Dan membimbing diri dengan benar Itulah berkah utama”

Pelajaran agama digunakan sebagai pedoman untuk hidup dalam masyarakat yang sangat kompleks sehingga anak bisa menentukan dan memilih hidup yang baik bagi dirinya sendiri. Dengan demikian jelas di sini bahwa yang dimaksudkan dengan pendidikan bukan hanya di sekolah saja. Sekolah selain sebagai tempat pendidikan sebenarnya lebih cenderung menjadi tempat pengajaran. Namun, rumah dengan kondisi rumahtangga yang damai dan harmonis akan menjadi tempat pendidikan yang baik bagi anak. Dengan demikian, apabila anak sudah diberikan pendidikan yang baik apabila tiba saatnya mengambil sebuah keputusan maka ia akan memutuskan yang baik. Baik bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan dan bangsa.
Kesimpulan

Jadi, Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kuragnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usiaya. Menurut Agama Buddha perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria sebagai suami dan seorang wanita sebagai istri berlandaskan pada cinta kasih (Metta), kasih sayang (Karuna), rasa sepenanggungan (Mudita) dengan tujuan membentuk suatu keluarga (ruma tangga) bahagia yang diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sang Buddha juga mengatakan “Ia menghindari hubungan seksual tidak sah, berpantang hubungan seksual. Ia tidak berhuubungan seksual dengan gadis yang masih dibawah perlindungan ibu atau ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak famili, atau dengan wanita yang sudah menikah, atau narapidana perempuan, atau dengan gadis yang telah bertunangan” Sebagai umat Buddha yang hidup di zaman moderan yang dihiasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dapat memandangnya secara realistis atau dengan maksud yang sebenarnya. Kalau kita lihat sekarang larangan menikah di usia muda, disebabkan karena beberapa alasan, salah satunya adalah kesehatan fisik dan mental. Meskipin dalam pernyataan Sang Buddha di atas tidak menjelaskan masalah kesehatan mental dan fisik tetapi dapat kita lihat secara jelas Sang Buddha memberikan peraturan itu dengan alasan yang baik untuk mencapai kebahagiaan duniawi. Dan untuk mencegah terjadinya stunting merupakan tugas semua pihak baik pemerintah maupun keluarga. Saat ini pemerintah sudah memberlakukan atau memiliki undang-undang pernikahan yang mebahas usia pernikahan tentu ini merupakan salah satu langkah yang tepat untuk mencegah terjadinya stunting. Lalu bagaimana langkah yang paling dasar? Saya rasa peran orang tua juga sangat penting dalam memberikan pendidikan baik pendidikan lahir dan batin.

Referensi

  1. Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id 15
  2. Dhammananda, Sri. K Rumah Tangga Bahagia Dalam Sudut Pandang Agama Buddha. Yogyakarta: Insight.
  3. Kompas.com, 26 Oktober 2021, 11:05 WIB).
  4. Dhammananda, Sri. K. (Terj.). (2010). The Dhammapada. Taiwan: The Corporate Body of the Buddha Educational Foundation.
  5. David, Rhys dan Carpenter, J. Estlin (Eds.). (1968). Dīghanikāya Atthakathā, Vol. I. London: Pali Text Society.
  6. A Anguttaranikāya
  7. D Dīghānikāya
  8. DA Dīghānikāya Atthakathā
  9. Dhp Dhammapada

KHUTBAH 4: PENCEGAHAN STUNTING DARI PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA**

OLEH: MAYANI

Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit

di antara orang-orang yang berpenyakit;

di antara orang-orang yang berpenyakit,

kita hidup tanpa penyakit (Dhp, 198. 8)

Dalam artikel ini Sebelum membahas dari segi buddhis, penulis akan menjelaskan secara umum terlebih dahulu.

Remaja adalah penduduk dalam rentang rentan usia 10-18 tahun. Rentan usia merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan. Berdasarkan data BPS 2018 bahwa dari 9 perempuan usia 20–24 tahun, menikah sebelum umur 18 tahun (11%). Indonesia merupakan negara ke-7 di dunia dan ke-2 di ASEAN yang terbanyak perkawinan anak. Hal tersebut bertentangan dengan komitmen negara, yaitu UUD 1945, Ratifikasi Konvensi Hak Anak, UU no 23 Tahun 2002, UU no.35 Tahun 2014 (Dr. Ir. Pribudiarta ).

Stunting adalah gagal tumbuh akibat akumulasi ketidak cukupan zat gizi yang berlangsung lama dari kehamilan sampai usia 24 bulan. Maka itu, kondisi ini bisa memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak secara keseluruhan. Dampak jangka pendek stunting adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pada pertumbuhan fisiknya, serta gangguan metabolisme. Dampak jangka panjangnya, stunting yang tidak ditangani dengan baik sedini mungkin berdampak:

 Menurunkan kemampuan perkembangan kognitif otak anak  Kekebalan tubuh lemah sehingga mudah sakit

 Risiko tinggi munculnya penyakit metabolik seperti kegemukan

 Penyakit jantung

 Penyakit pembuluh darah

 Kesulitan belajar

Bahkan, ketika sudah dewasa nanti, anak dengan tubuh pendek akan memiliki tingkat produktivitas yang rendah dan sulit bersaing di dalam dunia kerja.

Bagi anak perempuan yang mengalami stunting, ia berisiko untuk mengalami masalah kesehatan dan perkembangan pada keturunannya saat sudah dewasa.

Hal tersebut biasanya terjadi pada wanita dewasa dengan tinggi badan kurang dari 145 cm karena mengalami stunting sejak kecil. Ibu hamil yang bertubuh pendek di bawah rata-rata (maternal stunting) akan mengalami perlambatan aliran darah ke janin serta pertumbuhan rahim dan plasenta. Bukan tidak mungkin, kondisi tersebut berdampak pada kondisi bayi yang dilahirkan. Bayi yang lahir dari ibu yang kurang usia untuk menikah dan bawah rata-rata berisiko mengalami komplikasi medis yang serius, bahkan pertumbuhan yang terhambat. Perkembangan saraf dan kemampuan intelektual bayi tersebut bisa terhambat disertai dengan tinggi badan anak tidak sesuai usia. Selayaknya stunting yang berlangsung sejak kecil, bayi dengan kondisi tersebut juga akan terus mengalami hal yang sama sampai ia beranjak dewasa.

Pernikahan dini masih banyak ditemukan di pelosok-pelosok desa, setiap tahun banyak perempuan menikah pada usia dini yaitu pada usia 15 atau 16 tahun, hal ini menyebabkan angka pematian ibu dan anak semakin meningkat, disamping itu tejadinya penularan infeksi malalui seksual dan kekerasan meningkat di bandingkan dengan perempuan yang menikah pada usia matang.

Kehamilan maupun proses persalinan pada usia dini terntunya memiliki resiko akan komplikasi berbahaya, seperti melahirkan yang kurang normal, bayi lahir dengan prematur dan dan melahirkan anak dengan kurang gisi.

Penyebab perkawinan anak ada beberapa faktor diantaranya faktor Ekonomi dan kemiskinan, Nilai budaya anak perempuan sebagai asset keluarga, Regulasi kebijakan yang masih belum berpihak pada anak perempuan, Globalisasi perilaku remaja yang terpengaruh budaya negative, Ketidaksetaraan gender kurangnya partisipasi, akses dan pengambilan keputusan bagi anak perempuan.

Dari kesimpulan diatas penulis mengambil kesimbulan bahwa, pemerintah harus bekerjasama dengan masyarakat untuk menumpas pernikahan dini agar tidak terjadinya anak stunting, menjadi perhatian pemerintah agar benar-benar serius untuk menangani permasalahan ini dan penulis berharap memerintah menemukan cara untuk mengatasi pernikahan dini agar tidak adalagi anak stunting.

Pencegahan Stunting Dari Perspektif Agama Buddha

Terdapat dua jalan hidup yang tidak sama, yaitu kehidupan berumah tangga yang menyokong keluarga dan kehidupan petapa yang tidak memiliki ikatan keduniawian (Sn, 220). Keterikatan pada istri, anak-anak dan harta benda jauh lebih kuat dari belenggu yang terbuat dari besi, kayu ataupun tali rami (Dhp. 345). Kehidupan rumah tangga pun dianggap bagai jalan penuh debu yang menyesakkan, sedangkan kehidupan petapa bagai menghirup udara bebas (A. II, 208). Kaum perumah tangga terdiri dari upasaka dan upasika, kaum petapa terdiri dari Bhikku dan bhukkuni, para anggota sangha. Keempatnya adalah parisa pengikut Buddha (A. II, 132).

Terbentuknya bahtera kehidupan rumah tangga idealnya didahului dengan suatu planning atau rencana, dari rencana ada yang direlisasikan dalam kegiatan untuk mencapai tujuan dari kehidupan berumah tangga, untuk itu perlu adanya pemahaman terhadap tujuan kehidupan berumah tangga. Keluarga berdiri Bersama-sama seperti sebuah hutan, sementara badai menumbangkan pohon yang berdiri sendiri, (Ja. I. 329). Petikan kitab suci ini memberi inspirasi, mengenai ketahanan kelaurga dan krisis yang dihadapinya seperti pernihana usia dini yang mengakibatkan kelahiran pada bayi yang stunting,

Kehidupan sebagai petapa tidaklah mudah, sedangkan kehidupan sebagai perumahtangga yang buruk jelas menyakitkan. Tinggal Bersama dengan orang-orang yang tidak sesui adalah penderitaan. Hidup mengembara dalam samsara memang menderita. Karena itu janganlah menjadi orang yang dikuasai penderitaan (Dhp, 302). Jalan hidup yang manapun harus diarahkan untuk mengkhiri penderitaan.

Dalam Mahamanggala sutta , Buddha menyatakan bahwa menyokong ayah dan ibu, meraat anak dan istri. Merupakan salah satu bentuk berkah utama (Sn. 262). Ia juga berkata , bila orang yang baik terlahir dalam suatu keluarga, hal ini membawa kebaikan, kesejahteraan dan kebahagian bagi banyak orang, baik orang tuanya, istri dan anak-anaknya, pelayan, dan juga membawa kebaikan, kesejahteraan dan kebahagian bagi para pertapa dan brahmana (A. III, 46). Kebaikan individu adalah kebaikan bagi keluarga dan masyarakat.

Keluarga yang baik terdiri dari individu dalam keluarga yang dapat diatur dan mengatur dirinya dengan baik. Orang yang bijaksana terlebih dahulu harus mengembangkan dirinya sendiri dalam hal yang patut, dengan demikian lalu ia dapat melatih orang lain (Dhp. 158). Dengan mengatur diri secara benar, akan tercipta harmoni di dalam keluarga. Harmoni di dalam kelurga akan menghadirkan keterlibatan di dalam negara. Keterlibatan di dalam negara mendatangkan kedamaian didunia.

Manusia merupakan satu kesatuan dari unsur jasmani dan rohani, mengenai pemahaman yang benar terhadap tubuh yang rapuh yang merupakan sarang suatu penyakit yang justru akan mendorong agar manusia memperhatikan perawatan tubuhnya dengan baik. “Perhatikanlah tubuh yang indah ini, penuh penyakit, terdiri dari tulang belulang, lemah dan perlu banyak perawatan, keadaannya tidak kekal serta tidak tetap” (Dhp.XI.147). Perilaku yang bersih dan sehat akan menghasilkan lingkungan yang bersih dan sehat pula, begitu pula sebaliknya lingkungan yang bersih dan sehat akan mendorong prilaku yang bersih dan sehat pula, walaupun diri sendiri merupakan faktor utama dalam menciptakan keadaan yang sehat.

Salah satu hal yang sangat penting dalam pribadi seseorang adalah kesehatan mental, yaitu kondisi mental yang tidak sakit. Buddha Dhamma berperan besar dalam memecahkan kesulitan para ahli tentang kesehatan mental, Buddha menunjukkan bahwa setiap orang secara terus-menerus mendengarkan suatu suara dalam dirinya dan menafsirkan apa yang sedang dirasakannya. Tindakan ini merupakan tindakan untuk menenangkan diri terhadap prasangka, kegelisahan dan ketakutan. “Melenyapkan kegelisahan, dan kekawatiran maka akan terbebas dari perasaan tegang, dengan pikiran tenang, mensucikan batinnya dari kegelisahan dan kekawatiran. Ia melenyapkan keragu-raguan, ia hidup bagaikan orang yang telah bebas dari kekacauan batin dan batinnya berada dalam kebaikan, ia mensucikan batinnya dari keragu-raguan” (D.III.XIV.25).

“Sehat adalah anugrah tertinggi, Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi” (M.II.VII.65). Nibbana adalah tujuan tertinggi umat Buddha, sedangkan sakit, usia tua, kematian sebagia ciri dari penderitaan merupakan proses tak terelakkan yang penuh makna dan hikmah dalam perjalanan mencapai tujuan tertinggi. “Sungguh bahagia hidup tanpa penyakit diantar orang-orang yang berpenyakit, diantara orang-orang yang berpenyakit hidup tanpa penyakit” (Dhp.XV.198). Jadi dalam hal ini bisa dikatakan bahwa tujuan agama adalah sebuah keadaan kesehatan mental yang sempurna dan kebahagiaan sejati, tetapi selama manusia belum melenyapkan dukkha dalam dirinya mak kesakitan mental akan berada dalam dirinya bahkan dapat berkembang dengan cepat dan kedamaiaan Nibbana belum dapat dirasakan. Perlu diketahui bahwa tujuan dari Buddha mengajarkan Dhamma adalah untuk kebahagiaan umat manusia dan memperoleh mental yang benar-benar bebas dari penyakit apapun. “Bhagava mengajarkan Dhamma agar Dharma dapat melenyapkan dukkha dari orang yang melaksanakannya” (D.III.XIV.24). Dukkha merupakan kekacauan-kakacauan dan Nibbana adalah keadaan yang teratur dan sehat, tetapi umat Buddha adalah pengurangan serta pelenyapan dukkha dan mencapai Nibbana yaitu dengan pelaksanaan delapan jalan utama secara sempurna.
Atutarayasa me seto cittam anaturam bhavisatiti Miskipun tubuhku menderita, namun batinku tidak akan menderita (Nakulapita Sutta, SN 22. 1)

Stunting tidak hanya berdampak pada Kesehatan fisik semata tetapi stunting juga bertampak pada Kesehatan mental, Stunting ini lebih sering terjadi pada usia pernikahan dini, atau usia orang menikah sebelum usia matang,

Kesehatan mental ( Kayika roga) adalah suatu kondisi yang sangat penting dalam menjalankan kehidupan ini, Kesehatan mental Buddha mengibaratkan seperti seseorang yang jantungnya tertusuk belati. Lebih dari itu, terasa seperti tertusuk dua belati dijantungnya saat batinnya turut menderita karena sakit tersebut (Sallatha sutta; SN 36.6), Artinya penderitaan seseorang yang sakit akan berlipat ganda saat batinnya juga turut menderita. semua orang pasti berusaha menjaga Kesehatan, apapun akan di lakukan unuk membuat badan dapat terus fit dan bertenaga. Namun demikian, sesungguhnya jasmani penuh dengan penyakit, baik dalam skala kecil maupun besar. Dalam Girimananda sutta (AN, 10. 60), Buddha menguraian bahwa tubuh ini adalah sarang dari berbagai macam penyakit. Keinginan untuk terus sehat memang kewajaran bagi pandangan umum.

Kesehatan fisik adalah Kesehatan bebas dari sakit seluruh badan dan bagian-bagiannya . seseorang yang fisiknya sehat dan kuat lebih beruntung dibandingkan dengan orang yang sakit-sakitan. Orang yang sehat secara fisik ia dapat melakukan aktivitas dalam lingkungan masyarakat lainya.

Dalam agama buddha Kesehatan sungguhlah penting, seperti yang di babarka oleh buddha dalam Dhammapada, bahwa kesehtan adalah perolehan terbesar yang seseorang miliki (Dhp. 204, M.I.508) pernyataan ini di jelaskan oleh buddha dalam kitab komentar . Arogyaparamati gathaya ye keci dhanalabha va yasalabha va puttalabha va natthi, arogyam tesam paramam uttama, nathi tato uttaritato labhoti, arogyaparama labha Bahwa siapapun yang memiliki perolehn kekayaan, kemasyuran, atau anak, Kesehatan merupakan perolehan yang tersebas.tidak ada perolehan yang melebihi itu (MA.III.218) Setiap orang di besarkan menjadi dirinya sendiri, tetapi hidupnya tidak hanya untuk dirinya sendiri , diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri , karena siapa pula yang dapat menjadi pelindungnya?. Dengan mengendalikan diri sendiri. ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh sukar di cari “(Dhp. 160). Melihat dari kutipan tersebuat maka perlu seorang individu untuk mnyadari bahwa Kesehatan fisik sangat berdampak pada Kesehatan mental, dan jika orang ibu mengalami hal tersebut maka akan bertampak pada bayi atau naka, maka dari itu perlu memahami dan mengerti akibat dari pernikahan dini, disinilah peran penting pemerintah untuk terus memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar mampu mencegah pernikahan dini,untuk mengurangi angka kematian pada ibu waktu melahirkan dan mencegahan angka kematian pada bayi.

Pendidikan dan pemberdayaan pada remaja sangatlah penting untuk menghindari terjadinya pernikahan diri selain pemerintah dan tenaga Kesehatan, peran orang tua terutama ibu sangatlah penting dalam menyampaikan hal-hal mendasar terkait norma dan informasi Kesehatan reproduksi rejama. Jika upacara untuk mengurangi pernikahan diri bisa tercapai, maka angka kematian ibu maupun bayi akan menurun.

Simpulan

Setelah kita megatahui akibat dari penikahan dini yang mengakibatkan stunting dan gangguan Kesehatan baik secara mental maupun secara fisik maka perlu di cegah dari sekarang, jangan sampai kondisi ini terus berlanjud yang mengakibatkan Kesehatan yang menurun

Kesehatan merupakan suatu keadaan dimana badan jasmani, mental lingkungan dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya benar-benar terjadi suatu keharmonisan. Kesehatan sangat diperlukan oleh manusia, karena dengan adanya kesehatan manusia bisa bekerja untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Sang Buddha memberikan jalan untuk menjaga kesehatan dengan jalan melenyapkan semua rasa kekuatiran yang ada dalam diri kita, dan tidak melekati sesuatu yang disenangi.Disamping itu seseorang harus melaksanakan sila karena dengan melaksanakan sila seseorang akan terbebas dari kekuatiran tersebut. Keserakahan, harga diri yang terluka, iri hati, kebecian, kekuatiran. Kelima hal tersebut yang paling menyebabkan penderitaan yang sangat mendalam adalah kekuatiran, mengapa kekuatiran dikatakan hal yang paling utama dan sangat berbahaya karena hal ini timbul dari perasaan yang tidak nyaman, yang merupakan sebab awal itu adalah kemelekatan, seperti apa yang terdapat dalam Empat Kesunyataan menyatakan bahwa Asal mula penderitaan adalah keinginan.

DAFTAR PUSTAKA

aradjat Zakiah. 1989. Kesehatan Mental. Jakarta: CV Haji Mas Agung. https://buddhazine.com/pernikahan-menurut-agama-buddha/

https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/penyakit-pada-anak/stunting/

https://psw.ugm.ac.id/2021/02/18/pencegahan-perkawinan-anak-dengan-perspektif-agama-dan-kesehatan/

Notosoedirjo Moeljono. 2001. Kesehatan Mental Konsep Dan Penerapannya. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Sasanadhaja Pandita, Widya Surya. 2001. Dhammapada. Jakarta: Yayasan Abdi Dhamma Indonesia.

Tim Penyusun. 2003. Pengetahuan Dharma. Jakarta: CV. Dewi Kayana Abadi Wijaya Mukti Krisnananda. 2006. Wacana Buddha Dharma. Jakarta: Yayasan Dharma Pembangunan.

KHUTBAH 5: PENCEGAHAN STUNTING DALAM PERSPEKTIF AGAMA HINDU

Oleh : I Made Pramodya Jaya Wardana, S. Sos. H

OM Swastyastu.

OM Awignamastu namo sidham

OM Ano bhadrah krtavo yantu visvatah.

Semoga tiada halangan yang merintang

Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru arah memberikan keheningan dan kecemerlangan dalam setiap pemikiran kita semua dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Umat sedharma yang budiman. Sebagai manusia yang berbudi, tentu kita mesti menyadari bahwa segala hal yang terjadi semua atas kehendak-Nya. Kemudian apa yang bisa kita ambil di balik hikmah atas kehendak Beliau? lalu apa yang harus kita lakukan untuk dapat terhindar dari sebuah gangguan kesehatan seperti mencegah sebuah penyakit lebih dini. Oleh karenanya hal ini sesungguhnya menjadi perhatian khusus (warning) bagi kita semua? Inilah yang menyebabkan kepedulian semua orang untuk mendorong mensosialisasikan betapa pentingnya menjaga kesehatan di dalam kehidupan untuk generasi kita selanjutnya. Konsep Hindu mengatakan bahwa manusia terdiri dari dua unsur, yaitu: jasmani dan rohani.

Jasmaninya adalah badan, tubuh manusia itu sendiri. Sedangkan rohani merupakan hakekat Tuhan yang disebut dengan Atman percikan terkecil dari Brahman (Tuhan Yang Maha Esa) dalam Katha Upanisad III. 3 disebutkan:

Atmāna Rathinam Viddhi,

Sarīram Ratham Evatu

Buddhim Tu Sāradhim Viddhi,

Manah Pragraham Eva Ca

Artinya : Ketahuilah bahwa “Atma” sebagai penguasa dari kereta dan raga sesungguhnya adalah kereta dan ketahuilah buddhi sebagai kusir kereta dan pikiran sesungguhnya adalah kendalinya.

Sehingga dari penjelasan di atas bahwa kesehatan jasmani dan rohani tidak dapat dipisahkan antara satu dan yang lainya, karena merupakan dasar yang saling mendukung proses hidup dan kehidupan sebagai manusia dalam mencapai tujuan di dunia dan akherat, baik sebagai mahluk sosial ataupun beragama sehingga dapat membentuk karakter yang berbudi luhur.

Dalam hal ini yang menjadi pokok perhatian dan kepedulian kita bersama adalah mengenai stunting di mana secara mendalam stunting merupakan istilah para nutrinis untuk penyebutan anak yang tumbuh tidak sesuai dengan ukuran yang semestinya (bayi pendek). Stunting (tubuh pendek) adalah keadaan tubuh yang sangat pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan populasi yang menjadi referensi internasional. Stunting adalah keadaan di mana tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau keadaan di mana tubuh anak lebih pendek di bandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009). Stunted adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD), ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia anak. Stunted merupakan kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak. Ini dikarenakan oleh gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan, dari phenomena inilah kita belajar pentingnya pencegahan stunting bagi generasi kita selanjutnya, seperti pepatah mengatakan dibalik tubuh yang kuat dan sehat terdapat jiwa yang bijak dalam Maitriya Upanisad disebutkan:

Deho Devalayah Proktah, Sa jiva Kevala Sivah. Badan itu adalah Sthana-Nya Para Dewa (Devalaya) dan jiwa itu sendiri adalah Siwa yang meresapi segalanya

Jadi bisa diartikan sujatinya badan jasmani atau tubuh manusia mempunyai makna penting bagi Jiwaatma yang menjadi akar hidup dan dilahirkan menjadi badan jasmani sebagai manusia, karena tubuh manusia pada hakekatnya adalah Yoni dan jiwa-atma adalah Lingga-nya sehingga sering disebut dengan Lingga Sarira.

Berkaitan dengan peningkatan pengetahuan dan kemampuan dalam penerapan kesehatan dan gizi keluarga, sehingga anak berada dalam keadaan status gizi yang baik. Mempermudah akses keluarga terhadap informasi dan penyediaan informasi tentang kesehatan dan gizi anak yang mudah di mengerti dan di laksanakan oleh setiap keluarga di samping itu juga merupakan salah satu cara yang efektif dalam mencegah terjadinya stunting bagi generasi kita selanjutnya.

Terdapat tiga faktor utama penyebab stunting yaitu sebagai berikut:

  1. Asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi dalam makanan yaitu karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air).
  2. Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR),
  3. Riwayat penyakit.

Beberapa faktor yang terkait dengan kejadian stunted antara lain kekurangan energi dan protein, sering mengalami penyakit kronis, praktek pemberian makan yang tidak sesuai dan di sebapkan oleh faktor kemiskinan. Prevalensi stunted meningkat dengan bertambahnya usia, peningkatan terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan, proses pertumbuhan anak masa lalu mencerminkan standar gizi dan Menurut beberapa penelitian, kejadian stunted pada anak merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya stunted pada anak dan peluang peningkatan stunted terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan.

Umat sedharma yang budiman perlu kita ketahui bersama bahwa Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan di sebabkan kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolic serta mengurangi nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya berpeluang terjadinya stunted. Bila hal ini terus menerus terjadi pada generasi kita bagaimana tujuan hidup dapat di laksanakan? seperti yang kita ketahui dalam Brahma Purana 228, 45 disebutkan:

Dharma, Artha, Kama, Mokshanam, Sariram, Sadhanam. Tubuh adalah sarana untuk mencapai Dharma (kerohanian dan kesusilaan) Artha (sarana hidup duniawi dan harta benda) Kama (naluri, nafsu dan keingginan) Moksa (kelepasan roh dari penderitaan duniawi serta kehidupan abadi)

Cara Mencegah Stunting dalam Perspektif Agama Hindu Peluang besar untuk mencegah terjadinya stunting dapat di lakukan sedini mungkin. Dengan pendekatan Ajaran Agama. Seperti mengendalikan sad ripu sehingga akan mampu menumbuhkan kesadaran diri, mengapa demikian karena sad ripu adalah enam musuh yang ada dalam setiap diri manusia menurut ajaran Hindu, musuh-musuh ini perlu dikendalikan dari diri kita, sehingga dapat menerapkan kehidupan yang lebih baik dari diri kita, untuk kita dan kembali ke kita. Adapun keenam musuh tersebut sebagai berikut:

  1. Kama artinya hawa nafsu
  2. Lobha artinya loba/tamak.
  3. Krodha artinya kemarahan
  4. Moha artinya kebingungan
  5. Mada artinya kemabukan
  6. Matsarya artinya iri hati.

Berkaitan dengan pencegahan stunting maka dengan mengendalikan enam musuh ini kita akan mampu mengatasi segala permasalahan yang terjadi, sehingga dalam upaya mencegah faktor resiko gizi kurang baik pada remaja putri, wanita usia subur (WUS), ibu hamil maupun pada balita. Selain itu, menangani balita dengan tinggi dan berat badan rendah yang beresiko terjadi stunting, serta terhadap balita yang telah stunting agar tidak semakin berat, karena itu menkonsumsi makanan yang mengandung gizi sehat harus menjadi perhatian seperti yang sering di sebutkan oleh para leluhur kita “sukla apangan ring awak sarire manemu jadma sujati” artinya: kebersihan dan kesehatan sebuah makanan akan melahirkan kekuatan pada tubuh seseorang dengan demikian dapat diartikan sejak dulu leluhur kita sudah melakukan tradisi hidup sehat.

Mengamati perkembangan balita stunting belakangan ini selain dari faktor gizi juga dapat di putus mata rantainya sejak dini dengan cara melakukan edukasi dan memberikan ilmu pengetahuan kepada para remaja putri agar tidak menikah dini, sehingga hal tersebut dapat menjadi perhatian khusus. Dalam konsep Hindu, mengajarkan bahwa untuk menuju kehidupan bahagia ada jenjang yang perlu dilalui sebagai pondasinya yaitu “Catur Asrama” di mana sebelum pada tahap pernikahan (Grahasta) seseorang terlebih dahulu melalui proses pendidikan (Brahmacari) barulah seseorang mampu menuju keluarga yang Sukinah. Di samping itu dari segi kesehatan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi para ibu hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan di beri makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup gizi, juga diberi suplementasi zat gizi berupa kapsul dan vitamin. Di sinilah peran sebuah ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik, maka peran ilmu pengetahuan mampu menjadi pedoman dalam mencegah segala hal yang terjadi terlebih dini, sehingga tujuan dari agama Hindu yaitu “Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma” dapat terwujud disinilah sangat pentingnya peran ilmu pengetahuan seperti dalam Bhagawad Gita Bab 4 Sloka 37 disebutkan:

Yathai Dhamsi Samidho

Gnir Bhasmasat Kurute Arjuna

Jnanagnih Sarwa Karmani

Bhasmasat Kurute Tata

Artinya : Bagaikan api yang menyala oh Arjuna membakar kayu menjadi abu demikian juga ilmu pengetahuan membakar segala karma menjadi abu

Dengan memahami sloka diatas dapat kita simpulkan bahwa dengan adanya sebuah ilmu pengetahuan yang kita miliki dan aplikasikan di tengah-tengah masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, maka hal ini dapat menjadi dasar setiap orang untuk mewujudkan hidup sehat baik secara jasmani maupun rohani. Disinilah peranan penting dari kedudukan ilmu pengetahuan, baik pengetahuan umum maupun pengetahuan agama sebagai landasan utama dalam mewujudkan hidup sehat bagi semua orang untuk mencegah terjadinya stunting terlebih dini bagi anak cucu dan generasi selanjutnya, seperti yang sudah dijelaskan secara umum mengenai pengetahuan tentang kesehatan tubuh, kesehatan makanan dan juga didukung oleh pengetahuan tentang ajaran agama secara spiritual yang menjelaskan pentingnya dalam menjaga kesehatan tubuh (awak sarira). Dengan demikian akan mampu mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera, hal ini sesuai dengan pandangan konsep agam Hindu dalam melahirkan keturunan yang suputra dan membina keluarga yang sukinah bhawantu. Demikian tulisan ini kami susun dan sajikan sebagai bahan pemahaman bersama untuk memberikan edukasi kepada semua kalangan masyarakat mengenai betapa pentingnya menjaga kesehatan dari kita untuk kita dan kembali ke kita. Semoga tulisan ini dapat menjadi bermanfaat.

Simpulan

Stunting adalah keadaan di mana tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau keadaan di mana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009). Stunted adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD), di tandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia anak. Stunted merupakan kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan di masa lalu dan di gunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.

Stunting dapat di diagnosis melalui indeks antropometrik tinggi badan menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai dan atau kesehatan. Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami “intrauterine growth retardation” (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Beberapa faktor yang terkait dengan kejadian stunted antara lain kekurangan energi dan protein, sering mengalami penyakit kronis, praktek pemberian makan yang tidak sesuai dan faktor kemiskinan.

Perkembangan balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak dini dengan cara melakukan edukasi dan memberikan ilmu pengetahuan kepada para remaja putri agar tidak menikah dini, sehingga hal tersebut dapat menjadi perhatian khusus. Dalam konsep Hindu, mengajarkan dalam menuju kehidupan bahagia ada jenjang yang perlu dilalui sebagai pondasinya yaitu “Catur Asrama” di mana sebelum pada tahap pernikahan (Grahasta) seseorang terlebih dahulu melalui proses (Brahmacari) barulah seseorang memasuki masa Grhasta sehingga mampu menuju keluarga yang Sukinah. Di samping itu dari segi kesehatan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi para ibu hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup gizi, juga di beri suplementasi zat gizi berupa kapsul dan vitamin. Di sinilah peran sebuah ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik, maka peran ilmu pengetahuan mampu menjadi pedoman dalam mencegah segala hal yang terjadi terlebih dini, sehingga tujuan dari agama Hindu yaitu “Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma”

DAFTAR PUSTAKA

  • Pendit, S Nyoman. 2002. Bhagavad-Gita. CV. Felita Nursatama Lestari Jakarta.
  • Putra, Ida Bagus Rai. 2014. Swastika Rana. PT. Mabhakti.
  • Suradha, I Made. 2006. Brahma Purana. Paramita Surabaya.
  • Sudharta dan Atmaja. 2001. Upadesa Tentang Ajaran-Ajaran Agama Hindu. Paramita Surabaya.
  • S. Radhakrishna. 2015. Upanisad Upanisad Utama. Paramita Surabaya.
  • Makalah Stunting – Tulaktongtingaitem (home.blog) (https:// bossmarshall.home.blog/2019/07/26/makalah-stunting/)
share:

Tinggalkan Komentar Anda

Berita Lainnya